Kasus buruh pabrik sepatu Nike beberapa waktu lalu memberikan pelajaran penting bagi kita. Akibat ordernya diputus sepihak, 15 ribu karyawan dari dua pabrik sepatu Indonesia yang mengerjakan sepatu merek Nike terancam PHK. Padahal, Nike tidak punya satu pun pabrik sendiri, tapi begitu berkuasa.
Anda kenal Polytron, Sanken, atau Sanex? Tahukah Anda, itu adalah sebagian kecil merek asli Indonesia yang bisa bertahan di segmen masing-masing, berhadapan langsung dengan merek-merek internasional. Ketika sebuah merek asli Indonesia bisa bertahan dan meraih pangsa pasar yang signifikan, maka lapangan kerja yang luas akan terbuka lebar. Begitu pentingnya sebuah merek yang kuat, membuat sepatu Nike bisa dijual puluhan juta pasang di seluruh dunia dalam setahun, tanpa perlu memiliki satupun pabrik.
Hal yang persis sama juga terjadi pada ponsel. Berbagai vendor merek terkenal di dunia, tidak membuat sendiri produknya. Mereka memesan ponsel dengan spesifikasi tertentu ke pabrik-pabrik ponsel yang banyak bertebaran di berbagai belahan dunia. Pabrik mana saja yang berani menawarkan biaya pembuatan ponsel termurah, itulah yang akan diburu. Beberapa tahun terakhir, Cina terkenal sebagai pusat pabrik murah untuk hampir semua jenis produk, termasuk ponsel. Karena itu, perusahaan ponsel dunia juga berhamburan ke Cina, mencari pabrik yang bisa mengurangi ongkos produksi dan akhirnya menambah pundi-pundi uang mereka.
Sebagai contoh, Nokia 8800 yang berharga 6 jutaan itu, dibuat di Guandong Cina oleh Lamax Group Co. Ltd. Lalu Nokia N70, 6680, 6630 dan Motorola RAZR V3x dibuat oleh Potasen (HK) Technology Limited atau T-Link Industrial Development Company. Utone Telecom Ltd (Hongkong) membuat Samsung E900. Bestland Technology Ltd di Shenzhen Guandong Cina, juga membuat Nokia N73, N93 dan produknya diekspor ke USA, Inggris, Jerman, Perancis, Itali, Yordania, Australia, Canada, dan Swedia.
Dengan model bisnis tanpa pabrik seperti itu, pemilik merek ponsel bebas berpindah pabrik yang bisa memberi penawaran harga termurah, produk berkualitas dan lebih tepat waktu. Mereka tinggal konsentrasi pada pemasaran dan pembentukan merek yang kuat. Tentu saja pemilik merek ponsel global ini mesti memiliki divisi riset yang kuat dan canggih, agar bisa terus mengikuti perkembangan teknologi dan selera pasar.
Perjuangan Merek Lokal
Di dunia bisnis ponsel Indonesia, ada merek Sanex dan Nexian yang juga mencoba membangun merek sendiri di Indonesia. Sanex telah hadir sejak lama, bahkan sempat identik dengan CDMA karena merupakan merek pertama yang rajin menggelontor pasar dengan berbagai tipe ponsel dan FWT CDMA. Meski Sanex mulai mendapat tempat di hati para pemakai ponsel CDMA, namun keinginan Sanex masuk ke ponsel GSM yang sudah dikuasai pemain kelas dunia, agaknya menjadi batu sandungan yang sangat terasa. Ketika inovasi di ponsel CDMA mulai kendor gara-gara sibuk masuk ke ponsel GSM, vendor ponsel dunia mulai masuk juga ke ponsel CDMA. Akibatnya, Sanex mengalami penurunan pasar yang cukup berarti di segmen CDMA, dan juga kurang berhasil di segmen GSM.
Pemain merek lokal lainnya adalah Nexian. Melihat latar belakang pendirinya, sebenarnya dukungan terhadap Nexian terlihat sangat kuat. Nexian merupakan perusahaan patungan PT Inti Pisma International, PT J-Tech Manufacturing of Indonesia, PT Airwave Technology dan PT.Metrotech Jaya Komunika. Inti Pisma dan J-Tech merupakan salah satu investor kuat dari Pisma Grup (dalam negeri). Airwave adalah investor PMA Korea yang menjadi tulang punggung riset & desain bagi ponsel Nexian, sedangkan Metrotech adalah distributor yang sudah lama beroperasi di Indonesia.
Sayangnya, produk pertama Nexian, NX350 yang dijual bundling dengan Esia seharga Rp 299 ribu menjadi pemicu ketidakpercayaan konsumen akan kualitasnya. Sebagai ponsel termurah yang laris, saat itu Nexian NX350 banyak mendapat komplain karena banyak fitur yang bermasalah dan sering hang. Wajar saja, NX350 adalah ponsel refurbished Samsung alias rekondisi. Keseriusan Nexian terlihat saat meluncurkan tipe berikutnya NX370 yang benar-benar baru dan diproduksi sendiri oleh Nexian di pabriknya di Karawang, Jawa Barat dengan 937 karyawan. Mulai tipe NX370, Nexian dirakit di Indonesia dengan campuran komponen lokal (dibuat sendiri) dan komponen impor dari China dan Korea. Meski banyak meluncurkan tipe ponsel baru seperti Nexian NX800, NX910, NX960, NX960i, dan NX200D (dual mode GSM-CDMA), Nexian masih harus berjuang mengembalikan turunnya kepercayaan konsumen saat peluncuran produk refurbished pertamanya.
PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI), BUMN telekomunikasi milik pemerintah, sebenarnya juga gerah melihat pesatnya pertumbuhan bisnis seluler tanpa bisa ikut terlibat di dalamnya. Abdul Aziz, Direktur Utama PT INTI menilai dominasi vendor asing dalam industri telekomunikasi saat ini sebagai sebuah tantangan, padahal PT INTI telah memiliki pengalaman panjang dalam manufaktur telekomunikasi nasional.
Fakta bahwa tidak adanya industri dalam negeri yang mampu memasok komponen dan spare part ponsel berkualitas, turut menyulitkan hadirnya ponsel yang benar-benar buatan Indonesia. Tampaknya, saat ini strategi yang paling mungkin adalah memesan ke pabrikan Cina yang murah dan banyak pilihan seperti dilakukan merek dunia lainnya. Setelah memiliki merek yang kuat dan punya pasar dalam negeri dengan skala ekonomi yang cukup, sedikit demi sedikit kualitas pemasok dalam negeri diperbaiki.
Hitech, Gairah Baru
Model bisnis seperti yang dilakukan pemilik merek global itu rupanya memberi inspirasi para pengusaha di Indonesia, terutama para distributor ponsel. Sekian lama hanya ikut berjualan ponsel dari vendor luar negeri dan mengamati bisnis yang terus membesar, membuat sejumlah distributor ponsel berkumpul untuk membangun merek sendiri, merek Indonesia. Setumpuk pengalaman dan modal yang sudah dikumpulkan selama bertahun-tahun, membuat mereka mengerti bagaimana selera pasar dan cara mengantarkan produk sampai ke tangan konsumen akhir.
Para distributor ponsel nasional ini mencoba menyelusup di pasar ponsel Indonesia yang sudah disesaki merek-merek dunia, seperti Nokia, Samsung, Motorola, Sony Ericsson, atau LG. Laiknya merek Polytron dan Sanken yang berbau asing dan terbukti eksis, konsumen Indonesia bisa jadi kurang percaya produk canggih bermerek bahasa Indonesia. Karena itu, ponsel baru ini diberi nama Hi-Tech, agar mudah diasosiasikan sebagai high technology, dan didistribusikan lewat PT Tirta Citra Nusantara. Mereka mengklaim sudah menyiapkan 500 toko di kota-kota di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua sebagai outlet resmi Hitech Mobile.
Produk pertama yang dilepas di pasar nasional adalah Hi-Tech H-38. Segmentasinya terlihat unik, karena fungsi ponsel yang sudah sangat biasa tidak terlalu ditonjolkan. Sementara itu, fitur-fitur hiburan dan mutimedia yang selama ini terpisah di berbagai produk malah disatukan. Dari fitur dan bentuknya, Hi-Tech H-38 lebih mirip produk gabungan antara PDA, ponsel GSM, kamera digital/video, kamera webcam, MP3/MP4 player, radio FM, TV tuner, dan organizer sekaligus. Layarnya lebar ala PDA 2,6 inchi 262 ribu warna, resolusi 320x240 pixel plus touchscreen (layar sentuh).
Phonebooknya mampu menampung 1000 nama plus slot memori microSD. Uniknya lagi, Hi-Tech H-38 juga dilengkapi aplikasi Anti Maling, sehingga ponsel yang hilang tetap bisa dilacak nomor pemakainya. Mungkin yang kurang adalah koneksinya hanya menggunakan USB (tanpa Bluetooth) sehingga kurang fleksibel untuk bertukar data. Tipe ponsel berikutnya yang akan diluncurkan adalah Hitech H31 Double GSM (satu ponsel bisa dua operator GSM dan keduanya aktif), dan Hitech H51 Dual Mode CDMA+GSM (CDMA dan GSM aktif di satu ponsel)
Di toko-toko, Hi-Tech H-38 ini hanya dijual Rp 1,98 juta. Tak heran pasar menyambutnya. Awalnya Hi-Tech hanya menargetkan penjualan 2000 unit Hi-Tech H-38 per bulan. Ternyata dalam setengah bulan (Agustus 2007), penjualan sudah mencapai angka 4000 unit. Hingga akhir Agustus 2007 Hitech H-38 terjual sekitar 7000 unit, dan diharapkan bulan September dapat menembus 10.000 unit. Berbeda dengan pola penjualan distributor ponsel yang dipaksa memenuhi angka target penjualan yang harus habis, Hitech lebih memilih memenuhi permintaan pasar sedikit demi sedikit.
Belajar
Belajar dari produsen merek lokal sebelumnya, Hi-Tech bertekad memperkuat kontrol kualitas (QC), layanan purna jual dan kemunculan tipe berikutnya. Kontrol kualitas dilakukan tiga tahap, sejak di pabrik, selama pengiriman dan setelah barang sampai. Image masyarakat yang negatif terhadap ponsel baru di luar merek dunia, dicoba dihilangkan dengan membuktikan layanan purna jual.
Image positif memang tidak bisa didapat dalam sekejap, tapi harus dibangun dan selalu dijaga. Karena itu, untuk layanan servis dan purna jual, ponsel Hi-Tech menggandeng Dian Graha Elektrika/DGE, distributor berbagai produk sejak 1977, termasuk ponsel Siemens dan BenQ-Siemens sejak awal masuk Indonesia. Jaringan DGE sendiri tersebar di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Yogyakarta. Solo, Bali, Medan, Palembang, Pekanbaru, Banjarmasin, Samarinda dan Makassar. Strategi baru Hitech adalah memperbaiki layanan purna jual lewat servis garansi cepat, maximal 1 minggu. Jika dalam 1 minggu tidak selesai maka ponsel yang rusak akan ditukar (swap) dengan ponsel baru.
Selain itu, hal mendasar yang dipelajari pemegang merek Hi-Tech dari kegagalan merek lain baik lokal maupun internasional adalah penentuan produk dan harga. Dari hal itu Hi-Tech bisa mengetahui produk seperti apa yang diterima atau ditolak masyarakat. "Strategi Hi-Tech saat ini adalah membidik pasar menengah-atas dengan harga menengah-bawah. Produk yang ditawarkan juga berfitur unggulan yang tidak dimiliki oleh 5 merek ponsel terbesar lainnya," papar Kusuma Ruslan, Marketing Manager PT Tirta Citra Nusantara (Hi-Tech). (Wahyu)

